Jasa Pembuatan Web Sekolah/umum Go Design [klik untuk model]

Harga Rp.3000.000-5000.000

Jasa Pembuatan Blog Pembelajaran/Umum Go Design [klik untuk model]

Harga Rp.500.000-600.000

Perbaikan dan Instalasi PC/Laptop Klik Untuk Rincian Harga

Harga Instalasi Rp.95.000 Win+Ofice. Perbaikan Rp.65.000

Tuesday, 5 July 2016

Kamus Sosiologi, Ta-,

Ta- 
Ta motanggomo: Penyangi tanggomo. Tanggomo merupakan bentuk puitis sastra lisan Gorontalo, Sulawesi Utara. Syair Tanggomo menceritakan kisah yang sedang hangat atau peristiwa menarik setempat, mempunyai banyak penganut. Selain menghibur, tanggamo juga memberi penerangan. Tanggamo merekam peristiwa sejarah, mitos, legenda, kisah keagamaan, dan pendidikan. Secara harfiah, tanggamo berarti menampung; dan ta motanggomo menampung minat penonton, menyampaikan cerita dengan semenarik mungkin.

Tabel frekuensi: Tabel yang menyajikan beberapa kali sesuatu hal terjadi. Tabel ini dapat dibedakan atas tabel frekuensi relatif, yaitu tabel frekuensi yang berisi persentase, dan tabel frekuensi kumulatif, yaitu tabel frekuensi yang berisi angka kumulatif.

Tabu: Yang dilarang atau dianggap suci/tidak boleh disentuh, diucapkan, dan sebagainya (pantangan).

Tabuik (Minangkabau): Upacara memperingati kematian Hasan dan Husein di Padang Karbala.

Tabula rasa: Teori yang mengemukakan bahwa manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya. Teori ini mengandaikan bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama. Kepribadian seseorang setelah itu semata-mata hasil pengalaman-pengalaman sesudah lahir. Perbedaan pengalaman yang dialami seseorang itulah yang menyebabkan adanya bermacam-macam kepribadian dan adanya perbedaan kepribadian antara individu yang satu dengan individu yang lain. Orang yang mengemukakan teori ini adalah John Locke pada tahun 1690.

Tabulasi: Penyusunan menurut lajur yang telah tersedia; penyampaian data dalam bentuk tabel atau daftar untuk memudahkan pengamatan dan evaluasi.

Tahap meniru (play stage): Tahap di mana anak mulai belajar mengambil peran orang yang berada di sekitarnya. Ia mulai menirukan peran yang dijalankan orang tuanya atau peran orang dewasa lain yang sering berinteraksi dengannya. Wujud peniruan itu antara itu, misalnya anak kecil menirukan peran yang dijalankan ayah, ibu, kakak, nenek, polisi, dokter, tukang pos, sopir, dan lain-lain. Namun, pada saat ini sang anak belum memahami alasan melakukan tindakan dan makna tindakan tadi. Anak itu dapat meniru tindakan seorang dokter, misalnya, tetapi dia tidak memahami alasan dokter menyuntik pasien, serta makna tindakan menyuntik itu.

Tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage): Tahap di mana seseorang telah dianggap dewasa dan sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, dia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat secara luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuh-penuhnya. Dalam tahap ini, individu dinilai sudah mencapai tahap kematangan untuk siap terjun dalam kehidupan masyarakat.

Tahap persiapan (preparatory stage): Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya. Pada tahap ini juga anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Dalam tahap ini, individu sebagai calon anggota masyarakat dipersiapkan dengan dibekali nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pedoman bergaul dalam masyarakat oleh lingkungan yang terdekat, yaitu keluarga. Lingkungan yang memengaruhi termasuk individu yang berperan dalam tahapan ini relatif sangat terbatas, sehingga proses penerimaan nilai dan norma juga masih dalam tataran yang paling sederhana.

Tahap siap bertindak (game stage): Tahap di mana seorang anak mengetahui peran yang harus dijalankan serta mengetahui peran yang harus dijalankan oleh orang lain yang berinteraksi dengannya. Hal ini tampak dalam suatu pertandingan. Seorang anak yang bermain sebagai penjaga gawang sepak bola, misalnya. Dia mengetahui tindakan yang harus dilakukannya serta tindakan para pemain lain, wasit, penjaga garis, dan sebagainya.

Tahlil: Zikir yang dilakukan oleh umat Islam. Zikir ini dianggap memiliki nilai yang terbesar dan mempunyai banyak keutamaan. Adab tahlil pada umumnya sering dilakukan pada saat suatu keluarga mengalami kedukaan (ada di antara salah satu familinya yang meninggal dunia), yang sebenarnya dalam Islam sendiri tahlil untuk kematian tidak ada.

Tahlilan: Ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian dan hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.

Taikamanua (Mentawai): Pemimpin dari negara roh.

Takhayul: Kebenaran yang didasarkan pada kepercayaan, yang belum tentu kebenarannya menurut akal pikiran manusia.

Tambun dan bungai: Jenis tarian masyarakat suku Dayak yang melukiskan tentang kisah kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas panen rakyat.

Tanggomo: Lihat ta motanggomo.

Tangtu (Baduy): Suku Baduy Dalam atau Kajeroan.

Tanjidor: Kesenian musik orkes Betawi yang menggunakan terompet besar (alat musik tiup). Tanjidor merupakan bentuk adanya pengaruh kebudayaan Eropa. Alat musik tanjidor terdiri atas alat musik tiup, seperti piston (cornet a piston), trombon, tenor, klarinet, bass, dilengkapi dengan alat musik membrane seperti tambur atau genderang. Pada umumnya musik tanjidor dimainkan untuk mengiringi pawai barisan atau arak-arakan pengantin.

Tantrisme: Istilah yang mengacu pada sekolah esoteris dari Hinduisme dan Buddhisme dan dengan kitab suci (disebut “tantra”) biasanya diidentifikasi dengan pemujaan Shakti. [1] Tantra terutama berkaitan dengan praktek-praktek spiritual dan bentuk-bentuk ritual ibadah yang bertujuan pada pembebasan dari kebodohan dan kelahiran kembali, alam semesta yang dianggap sebagai permainan ilahi Shakti dan Siwa.

Tata kelakuan: Lihat mores.

Tata tertib: Peraturan-peraturan yang harus ditaati atau dilaksanakan.

Tawuran: Istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok.

Tayub: Jenis tari pergaulan yang masih banyak di gemari di daerah Blora, dan Sragen.

Lihat Juga,
Kamus Sosiologi, Te-, Klik di sini
Kamus Sosiologi, Th-, Ti-, Tn-, To-, Klik di sini

Kamus Sosiologi, Tr-, Ts-, Tu-, Klik di sini



Sumber Kutipan Murni,
Haryanta, Agung Tri dan Eko Sujatmiko. 2012. Kamus Sosiologi. Aksara Sinergi Media. Surakarta.

0 komentar

Post a Comment